KEBERANIAN TANPA BATAS JOKOWI
Oleh: Birgaldo Sinaga


BANGNES - Apa yang paling menakutkan terjadi pada keluarga kita? Kemiskinan? Kesehatan buruk? Pengangguran? Karir mandeg?

Seorang teman menjawab yang paling ditakutkannya bukan soal kemiskinan. Karena kemiskinan itu bisa berubah dengan kerja keras dan kesempatan.

Bukan juga soal kesehatan karena itu hal biasa dalam sistem pertahanan tubuh manusia. Adakalanya sakit demam, tapi teknologi kedokteran bisa mengatasi penyakit itu. Juga bukan karir jeblog atau tidak punya pekerjaan. Itu masalah waktu saja.

Lalu apa yang kamu takutkan kawan?
"Yang paling saya takutkan adalah terusir dari tanah kelahiran saya sendiri".

Kamu tahu apa yang terjadi pada jutaan orang Suriah yang menyeberangi laut demi terhindar dari pembantaian di negerinya sendiri? Mereka terusir. Tercerabut akarnya. Terbuang. Terhempas. Tercerai berai. Semua milik mereka hilang dalam hitungan cepat. Bukan saja rumah, mobil, perhiasan yang lenyap, namun jejak kehidupan keluarga turun temurun hilang tak berbekas.

"Kamu tahu itulah penderitaan dan kutukan kehidupan yang paling menakutkan".

Saya terdiam. Tak kuasa saya mengamini semua pikirannya. Apa yang ditakutkan teman saya itu rasanya mutlak benar. Tidak terbantahkan.

Kemiskinan, masalah kesehatan, masalah pekerjaan atau karir itu hal umum terjadi. Bagian mata rantai kehidupan. Tapi soal terusir dari tanah kelahiran sendiri ini sulit dibayangkan bisa terjadi. Tapi nyatanya bisa terjadi.

Coba kita lihat sekeliling kita saat ini. Dalam arus besar perbincangan publik, pertentangan antar sesama anak bangsa sudah mulai mengkristal. Bukan lagi dalam pertentangan beda pendapat layaknya beda argumentasi dalam negara demokrasi. Namun sudah dalam bentuk pengelompokan identitas.

Pengkristalan identitas ini terjadi bukan semata2 lahir ujug2. Ia berembrio dari benih yang ditabur oleh kelompok asing seperti Wahabi dan trans nasional seperti Ikhwanul Muslimin Mesir dan Hizbut Tahrir Internasional.

Kelompok ini dengan cerdik dan sabar masuk melalui pengajaran agama dengan ideologi yang diluar pakem warisan ulama leluhur kita seperti Wali Songo, Syech Hasyim Ashari Pendiri NU, KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhamadiyah.

Pengajaran agama yang punya tujuan akhir mendirikan negara Khilafah Islamiyah ini menyasar para intelektual muda mahasiswa di kampus2 negeri bonafid. Kampus IPB, ITS, UI, ITB, USU, UNDIP dan banyak kampus lainnya ditempel oleh kelompok ini.

Mereka menyusup masuk dengan umpan kajian agama. Anak muda yang sedang mencari jati diri lemah dasar nilai agama ini akhirnya terkecoh. Kena masuk perangkap. Secara perlahan menggiring anak muda mahasiswa ini ketujuan akhir mereka. Semua hidup dan perjuangan ini hanya semata untuk menegakkan negara khilafah sesuai perintah agama. Begitu doktrinnya.

Apa hasilnya?

Benih yang mereka tabur 20-30 tahun lampau sekarang memegang banyak posisi kunci di lembaga pemerintahan dan profesional. Para dokter banyak terjangkiti doktrin khilafah ini. Tenaga pengajar dosen, guru, pegawai BUMN juga mereka kuasai. Juga masuk ke lembaga TNI Polri. Apa yang mereka tanam dulu kini bertunas dan berbuah.

Apakah pemerintah tahu persoalan ini?
Pemerintahan SBY sebelumnya tahu soal ini. Tapi sebagai presiden, kepala negara dan kepala pemerintahan sepuluh tahun SBY berkuasa yang terlihat malah pemberian lahan subur berkembang biak cepat. Tidak ada tindakan anti virus khilafah disuntikkan SBY. "Zero Enemy" jargon SBY adalah jawaban agar merangkul semua kelompok agar negeri ini adem ayem tidak ribut. Meski taruhannya eksistensi NKRI bakal lenyap jika pengusung khilafah ini berkuasa.

Syukurlah Tuhan Yang Maha Kuasa mengirim seorang lelaki kurus keras kepala dan bernyali raksasa ke negeri ini. Lelaki yang dipandang sebelah mata oleh lawan2nya. Lelaki ndeso yang diolok-olok oleh lawannya orang yang planga plongo.

Jokowi lelaki kurus sederhana itu ternyata sosok hantu yang menakutkan bagi kelompok radikal, kelompok intoleran dan kelompok pengusung tegaknya khilafah ini. Belum lagi kelompok penjarah kekayaan negara seperti mafia migas Petral. Belum lagi mafia ikan yang punya armada 7000 kapal laut yang habis menjaring jutaan ton ikan laut kita.

Keberanian dan ketegasan presiden planga plongo ini membuat pertempuran melebar. Keberaniannya bikin geleng2 kepala para punggawanya. Siapa yang bisa menyangka Jokowi bisa melangkah santai ke panggung aksi 212 Monas?

Semua punggawa pengelola keamanan dan pertahanan negara seperti KaBIN, Komandan Paspampres, Kapolri, Panglima TNI, Menkopolhukam memberi kode merah buat Presiden. Negative. Alih-alih menuruti nasihat punggawanya, Jokowi ternyata punya hitungan sendiri.

Pukul 09.00 Wib pagi, Jokowi sudah memerintahkan pasukan paspampres menghitung langkah dari pagar istana ke panggung aksi 212. Prajurit melaporkan sekitar 7 menit jalan kaki. Jokowi tersenyum.

Pukul 11.30 wib, Jokowi mengumpulkan menteri. Dengan tenang Jokowi mengajak pembantunya ikut sholat di Monas. Bergabung dengan ratusan ribu massa 212. Para pembantu presiden saling memandang. Tidak percaya.

"Maaf Bapak Presiden, risikonya terlalu besar. Kita tidak tahu siapa di kerumunan besar itu", potong salah satu pembantunya.

"Ya sudah... Kita jalan sekarang. Ini perintah", tegas Jokowi.

Hujan yang mengguyur Monas pada Jumat siang , 2 Desember 2016 itu tidak menyurutkan langkah Jokowi menuju Monas. Jokowi dengan langkah tenang dan ringan berjalan diapit pembantunya.

Usai sholat, Jokowi meminta naik panggung. Lagi2 pembantunya terkejut. Itu spontanitas Jokowi. Tidak seorangpun tahu rencana mendadak Jokowi itu.

Dari panggung belakang, Jokowi digendong naik. Tanpa alas kaki, Jokowi naik ke panggung. Kecemasan tingkat tinggi terjadi. Seluruh rakyat Indonesia menonton tanpa berkedip mata. Para pasukan paspampres keringat dingin. Semua dalam kondisi siap kokang senjata.

Semua menanti momen berisiko penuh bahaya ini. Bagaimana jika Jokowi dilempar sepatu? Bagaimana jika Jokowi diamuk massa? Bagaimana jika Jokowi disoraki massa? Dipaksa turun?

Hitungan Jokowi ternyata tepat. Kita tidak siap, di sana juga tidak siap. Karena sama2 tidak siap ya kehendak Tuhan yang terjadi. Kira2 begitu alur pikirnya.

Jokowi hanya minta bicara 2 menit. Tidak banyak tapi Jokowi berhasil menenggelamkan yang punya panggung. Rizieq Sihab tenggelam dalam pidato 2 menit Jokowi.

Tidak lama kemudian setelah aksi 212 yang layu sebelum berkembang itu, Rizieq Shihab dapat visa kunjungan ke Arab Saudi seumur hidup. Tokoh sentral aksi 212 itu terkena karma. Polisi menjadikannya tersangka chat mesum.

Setelah itu, keluar lagi anti virus yang sangat mematikan Hitbut Tahrir Indonesia. Jokowi meneken lahirnya Perppu Ormas. Ormas anti Pancasila dibubarkan. HTI dibubarkan pemerintah.

Dan paling terbaru adalah suntikan maut buat kaum radikal dan teroris. Jokowi mengancam akan mengeluarkan Perppu Anti Teroris jika DPR gagal merampungkan RUU Anti Teroris hingga akhir Juni ini.

Makjlebb.. Ancaman Jokowi ini bikin ciut partai penolak UU Anti Teroris. Dalam hitungan hari, akhirnya DPR sepakat. RUU Anti Teroris yang makan waktu hingga 2 tahun sah jadi UU.

Apakah kamu masih berpikir Indonesia akan seperti Suriah kawan?
Teman saya diam dan menatap tajam mata saya ketika pertanyaan itu menghunjam pikirannya.

"Rasanya Tuhan mengirim Jokowi sebagai penyelamat negeri kita dari kehancuran radikalisme dan negara khilafah bro",

Saya tersenyum. Lalu meneguk secangkir Chinesse Tea yang nikmat. Senikmat hangatnya sinar mentari di bawah rerimbunan pohon Istana Bogor sore itu.


Brigaldo Sinaga
Baca Juga :