PENDAHULUAN
Latar Belakang
   Perwujudan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan proses jangka panjang yang harus dimulai sejak janin dalam kandungan hingga usia lanjut, sehingga diperoleh manusia hebat, produktif, kreatif, mandiri dan tangguh menghadapi tantangan jaman. Terciptanya manusia yang berkualitas ditentukan oleh status gizi yang baik. Satus gizi yang baik dapat terwujud bila makanan yang dikonsumsi dapat memenuhi kecukupan gizi yang diperlukan baik dalam jumlah maupun mutu dari makanan itu sendiri.
   Menyusui adalah suatu proses alamiah, namun sering ibu-ibu tidak berhasil menyusui lebih dari yang semestinya, oleh karena itu ibu-ibu memerlukan bantuan agar proses menyusui dapat berhasil. Banyak alasan yang dikemukakan ibu-ibu antara lain ibu merasa ASI nya tidak mencukupi atau ASI nya tidak keluar pada hari-hari pertama kelahiran bayi. Sesungguhnya hal ini tidak disebabkan karena ibu tidak memproduksi ASI dalam jumlah yang cukup untuk bayinya, disamping informasi tentang cara-cara menyusui yang baik dan benar belum menjangkau sebagian besar ibu-ibu (Depkes, 2001).
   Adanya anggapan bahwa menyusui adalah cara yang kuno serta alasan ibu bekerja, takut kehilangan kecantikan, tidak disayangi lagi oleh suami dan gencarnya promosi perusahaan susu formula di berbagai media massa juga merupakan alasan yang dapat mengubah kesepakatan ibu untuk menyusui bayinya sendiri, serta menghambat terlaksanya proses laktasi (Widjaja, 2002).
   Di Indonesia terutama kota-kota besar, terlihat adanya tendensi penurunan pemberian ASI yang dikhawatirkan akan meluas ke pedesaan. Penurunan atau penggunaan ASI di Negara berkembang atau di pedesaan terjadi karena adanya kecenderungan dari masyarakat untuk meniru yang sesuatu yang dianggap modern yang datang dari negara yang telah maju atau yang datang dari kota besar (Soetjiningsih, 1997). Dari data SDKI 1997 cakupan ASI eksklusif masih 52% sementara target pemberian ASI eklusif secara nasional sebesar 80%. Pemberian ASI satu jam pasca persalinan 8%, pemberian hari pertama 52,7%. Rendahnya pemberian ASI eksklusif menjadi pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition and Health Surveillance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di wilayah perkotaan Indonesia berkisar antara 4%-12%, sedangkan di pedesaan 4%-25%. Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di Indonesia pada wilayah perkotaan berkisar antara 1%-13% sedangkan di pedesaan 2%-13%.
   Cakupan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif di Sleman, berturut-turut dari tahun 2002–2006 adalah 30,54% ; 38,14% ; 31,46% ; 46,12% dan 40,29 %. Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat adanya peningkatan ASI dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2005, tetapi pada tahun 2006 mengalami penurunan yang cukup tajam (Anonim, 2007). Dengan adanya pencapaian ASI yang masih jauh di bawah target nasional, maka ini merupakan tanda bahwa kesadaran para ibu dalam memberikan ASI masih perlu ditingkatkan.
   Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan pada bulan Januari-Pebruari tahun 2008 di BPS Atik Sutarto Sleman, Yogyakarta, terdapat 76 bayi yang berumur 0–6. Hasil penelusuran data didapatkan jumlah ibu yang menyusui bayi secara eksklusif sebanyak 33 orang (43,42 %) sedangkan ibu yang tidak memberikan ASI secara eksklusif sebanyak 44 orang (56,58%). Hasil ini menunjukkan bahwa proporsi ibu yang gagal memberikan ASI Eksklusif lebih banyak dibanding dengan ibu yang memberikan ASI Eksklusif.
  Menurut Judarwanto (2006), faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan ASI adalah (1) (32%) disebabkan kurangnya pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif, ibu-ibu menghentikan pemberian ASI karena produksi ASI kurang. Sebenarnya hal ini tidak disebabkan karena ibu tidak memproduksi ASI yang cukup melainkan karena kurangnya pengetahuan ibu. (2) 28% disebabkan oleh ibu bekerja sehingga ibu-ibu menghentikan pemberian ASI Eksklusif karena harus kembali bekerja. (3) (16%) disebabkan oleh gencarnya promosi susu formula, dimana ibu-ibu menghentikan pemberian ASI karena pengaruh iklan susu formula. Sedangkan lainnya (24%) disebabkan oleh (4) faktor sosial budaya yang meliputi nilai-nilai dan kebiasaan masyarakat yang menghambat keberhasilan ibu dalam pemberian ASI Eksklusif, (5) faktor dukungan dari petugas kesehatan dimana kegagalan pemberian ASI Eksklusif disebabkan kurangnya dukungan dari petugas kesehatan yang dianggap paling bertanggung jawab dalam keberhasilan keberhasilan penggalakan ASI dan (6) faktor dari keluarga dimana banyak ibu yang gagal memberikan ASI Eksklusif karena orang tua, nenek atau Ibu mertua mendesak ibu untuk memberikan susu tambahan formula.



Untuk Selengkapnya Silahkan Download secara GRATIS, klick dibawah :

Baca Juga :