Ini Alasan Orang Indonesia Mulai Tinggalkan Transaksi Tunai


BANGNES - Rencana pemerintah membatasi transaksi uang kartal atau tunai tampaknya akan segera terwujud. Sebab metode pembayaran non tunai (cashless) kini sudah mulai meningkat dan dipilih masyarakat.

Riko Abdurrahman, President Director of PT. Visa Worldwide Indonesia mengatakan dari hasil penelitian diperoleh sebanyak 45% orang Indonesia lebih pilih transaksi non tunai.

Alasannya adalah masalah kemanan. Masyarakat jauh lebih aman, cepat dan lancar menggunakan kartu sebagai pembayaran ketimbang tunai.

"Tren non tunai kini didorong oleh konsumen yang semakin menginginkan alat bayar yang aman, cepat, dan lancar. Masyarakat juga lebih menyukai proses pembayaran auto pay ketika membeli barang," ujar Riko Abdurrahman kepada CNBC Indonesia.

Dia pun menuturkan bahwa masyarakat dewasa ini lebih memilih toko yang memiliki pilihan self service check out. Serta lebih nyaman dengan teknologi biometrik untuk autentikasi pembayaran.

"Menurut survei Consumer Payment Attitudes Study 2017 mengatakan bahwa sebuah penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lebih memilih toko yang memiliki pilihan self service check out. Ini merupakan salah satu penyebab masyarakat berpindah ke kartu pembayaran eletronik seperti kartu debit, kredit, ATM, dan uang elektronik dibandingkan dengan menggunakan uang tunai," kata dia.


(Gus/Lynda Hasibuan/Cnbcindonesia.com)

Bangga Indonesia
Bangnes Updated at:

Kesiapan Jalur Mudik Lebaran 2018

Oleh: Darmaningtyas
Ketua INSTRAN (Institus Studi Transportasi) dan Ketua Bidang Advokasi MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia)


BANGNES - Kementerian Perhubungan memperkirakan akan terjadi kenaikan arus mudik pada musim mudik Lebaran 2018 ini sebesar 10-15% dibandingkan mudik 2017. Adapun prediksi penggunaan masing-masing moda transportasi adalah sebagai berikut: Pemudik yang menggunakan moda darat mencapai 8,09 juta orang , yang menggunakan KA sebesar 4,63 juta orang, pengguna moda udara diperkirakan sebesar 5,75 juta orang, yang menggunakan transportasi laut sebesar 1,77 juta orang, sedangkan pemudik dengan menggunakan sepeda motor diperkirakan mencapai 6,39 juta orang, naik dari tahun 2017 yang mencapai 4,78 juta orang.

Perkiraan kenaikan jumlah pemudik tersebut mungkin tidak terlepas dari lamanya cuti bersama yang mencapai tujuh hari, atau total libur mencapai 10 hari, yaitu dari tanggal 11 hingga 20 Juni 2018. Cuti bersama itu sendiri berlangsung pada tanggal 11, 12, 13, 14, 18, 19 dan 20 Juni 2018, sedangkan Idul Fitri pada 15-16 Juni.

Namun, boleh jadi lonjakan arus mudik tidak terlalu tinggi seperti yang diperkirakan, karena kondisi ekonomi makro (nasional) maupun mikro (keluarga) yang kurang mendukung. Meskipun Lebaran tahun ini liburnya panjang, tapi bersamaan dengan masa pencarian sekolah atau kuliah baru, sehingga bagi keluarga yang ekonominya pas-pasan lebih baik mengalokasikan dana yang ada untuk mencari sekolah/bangku kuliah baru daripada untuk mudik.

Menghadapi kemungkinan terjadinya kenaikan arus mudik tersebut, yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah adalah menyiapkan infrastruktur dan sarana transportasinya. Oleh karena arus mudik terbesar berasal dari wilayah Jabodetabek menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra; maka fokus perhatian pemerintah di koridor tersebut. Terkait dengan kesiapan infrastrukturnya, keberadaan Tol Trans Jawa dan Trans Sumatra dijadikan sebagai jalur andalan arus mudik dari arah Jabodetabek menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra. Sedangkan sarananya, selain menambah armada, baik untuk darat, KA, kapal laut, maupun udara; pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengadakan mudik gratis untuk pengguna sepeda motor. Mudik gratis kali ini tidak hanya ke Jawa saja, tapi juga ke arah Lampung.

Titik Macet Baru

Bagi para pemudik dari arah Jabodetabek menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur titik macet akan bergeser ke Semarang. Pada arus mudik 2017 lalu, Tol Trans Jawa dari arah Jakarta-Semarang, yang operasional baru sampai Brebes Timur (Brexit), dan fungsionalnya sampai di Pemalang. Tapi, sekarang sampai Pemalang sudah operasional, sedangkan Pemalang-Semarang fungsional. Bedanya, mudik 2017 lalu fungsionalnya berdebu dan kecepatan maksimal 40 km/jam saja, sekarang fungsional tidak berdebu dan kecepatan dapat 60 km/jam, karena konstruksi jalan sudah jadi, hanya karena infrastruktur pendukungnya belum siap maka belum dapat dioperasionalkan. Jadi, meskipun sebagian masih fungsional, tapi arus mudik Jakarta - Semarang tahun ini akan melintasi jalan tol terus. Konsekuensinya, dibutuhkan rest area yang lebih banyak dan luas lagi agar pemudik tidak mendapatkan kesulitan untuk istirahat.

Terkait dengan pemungsian tol hingga Semarang, maka titik kemacetan akan bergeser ke Semarang karena terjadi titik temu kendaraan kendaraan yang melintas melalui jalan tol dengan kendaraan yang melintas melalui jalan arteri Pantai Utara Jawa (Pantura). Dibutuhkan rekayasa lalu lintas di titik temu tersebut agar tidak menimbulkan masalah yang lebih serius lagi.

Jalur Pantura disarankan perlu tetap dioptimalkan fungsinya, terutama untuk bus umum karena jalannya relatif baik dan kemungkinan agak lengang mengingat kendaraan pribadi akan banyak memilih lewat jalan tol. Pantura akan lebih banyak dilintasi oleh pemudik dengan menggunakan sepeda motor, sehingga perlu penjagaan ekstra ketat agar tidak terjadi kenaikan tingkat kecelakaan lalu lintas.

Dua Alternatif

Bagi mereka yang akan melanjutkan perjalanan dari Semarang menuju Jawa Timur sisi utara (Tuban, Bojonegoro, Lamongan dapat melintas melalui Pantura, sedangkan bagi mereka yang akan melanjutkan perjalanan menuju ke Madiun hingga Surabaya (Jawa Timur sisi tengah dan selatan), mereka mempunyai dua alternatif. Pertama, masuk Pintu Tol Semarang lalu keluar Pintu Tol Salatiga kemudian belok kanan masuk ke jalan nasional, melintasi Kota Salatiga hingga Boyolali lalu masuk Pintu Tol Colomadu (Kartasura) - melintasi tol fungsional Karanganyar - hingga Pintu Tol Ngawi. Dari Pintu Tol Ngawi lanjut ke Madiun maupun Wilangan, keluar interchange Nganjuk, kemudian melintas jalan nasional dan masuk ke Pintu Tol Kertosono langsung Surabaya.

Alternatif kedua: masuk Pintu Tol Semarang keluar Pintu Tol Salatiga lalu belok kanan masuk ke jalan nasional, melintasi Kota Salatiga hingga Boyolali lalu masuk Pintu Tol Colomadu (Kartasura) - kemudian masuk ke tol fungsional Karanganyar hingga Ngawi, kemudian masuk ke Pintu Tol Ngawi sampai dengan Wilangan, lanjut masuk ke tol fungsional Wilangan hingga Kertosono, lalu masuk ke Pintu Tol Kertosono hingga Surabaya.

Pemerintah berencana ingin memfungsikan ruas tol Salatiga-Kartusuro, sehingga jalurnya, setelah keluar Pintu Tol Salatiga, belok kiri langsung masuk ke tol fungsional Salatiga-Kartasura. Rencananya, tol (darurat) itu akan difungsikan satu arah, satu jalur, dua lajur dari barat (Salatiga) ke timur (Kartosuro) saat arus mudik, dan pada saat arus balik satu arah, satu jalur, dua lajur dari timur (Kartasura) ke barat (Salatiga), dari jam 06.00 sampai jam 17.00 WIB saja. Namun, menurut saya, setelah mengikuti pemantauan kesiapan infrastruktur mudik yang dilakukan oleh Puslitbang Jalan dan Perkeretaapian, Balitbang Kementerian Perhubungan awal Mei lalu, tol fungsional Salatiga-Kartosuro sebaiknya tidak dioperasikan dulu dengan alasan keselamatan. Sejumlah kendala yang ada di ruas tol ini antara lain:

Pertama, ruas Tol Salatiga-Kartasura ini masih banyak pekerjaan yang belum tuntas, terutama terkait dengan persimpangan sebidang dan jembatan. Jika dipaksakan berfungsi, maka Plan A yang dibuat oleh kontraktor adalah semua jembatan tersambung kecuali Kenteng. Sedangkan Plan B: tiga jembatan belum tersambung dan satu overpass belum selesai sehingga pemudik lewat bawah. Selain kurang nyaman bagi pemudik, bagi kontraktor juga inefisien.

Kedua, di perbatasan Boyolali-Kartasura ada satu ruas yang belum dapat dikerjakan karena masih konflik dengan warga. Pada desain awal, lokasi tersebut akan dibangun overpass tapi masyarakat menolak dan minta dibangun underpass. Ketika usulan warga akan dieksekusi, warga berbalik menolak underpass dan minta dibangun overpass. Penolakan warga tersebut diwujudkan dengan memasang spanduk yang bertuliskan "overpass harga mati". Ruas ini melintasi jalan kabupaten (tepatnya jalan kampung). Jika tol fungsional diberlakukan, kendaraan yang lewat akan memotong jalan, sehingga butuh penjagaan petugas yang cukup banyak.

Ketiga, berdasarkan pengalaman mudik 2017, tol fungsional Bawen-Salatiga hanya dilintasi oleh kurang dari 1.000 mobil per hari. Rasanya terlalu sayang bila dana ratusan miliar hanya diperuntukkan memfasilitasi pergerakan 1.000 mobil sehari selama sepuluh hari saja. Jadi lebih baik diarahkan keluar Pintu Tol Salatiga lalu ikuti alternatif pertama tadi.

Khusus tol fungsional Kartasura hingga Ngawi jalannya sudah jadi, seperti halnya Pemalang-Semarang. Hanya saja karena infrastruktur pendukungnya (overpass dan underpass) belum selesai maka belum bisa dioperasionalkan, baru fungsional. Sedangkan ruas Tol Wilangan-Kartasura masih fungsional satu lajur. Pada ruas Tol Wilangan-Kartosono sebetulnya masih banyak kendala bila harus fungsional, mengingat sampai awal Mei masih ada tiga jembatan panjang belum tersambung karena terbentur oleh keterbatasan alat yang diperlukan. Hanya saja, tol ini akan difungsikan untuk mengurangi kemacetan di Mengkreng, yaitu pertemuan Jalan Raya Surabaya-Madiun dan Jalan Kertosono-Kediri dengan perlintasan KA yang sering menimbulkan bangkitan kemacetan hingga tiga kilometer.

Kemacetan Lokal

Belajar dari pengalaman Brexit 2016 yang menelan korban jiwa hingga 17 orang, maka yang perlu dilakukan oleh pemerintah pada mudik 2018 ini adalah memecah arus kendaraan agar tidak bertumpu di jalan tol saja. Keberadaan jalan Pantura perlu dioptimalkan untuk bus, mobil box, dan sepeda motor. Sedangkan kendaraan yang ke arah Purbolinggo, Purwokerto, Wonosobo, Kebumen, Magelang, Yogya, Wonogiri, Pacitan, dan sekitarnya dapat memilih jalur-jalur alternatif, misalnya keluar Pintu Tol Tegal, Pemalang, Batang, dan Weleri lalu ke kanan melalui jalan provinsi. Jalan-jalan tersebut meski tidak lebar, tapi cukup dilalui untuk kendaraan pribadi sejenis kijang dan jalannya relatif bagus.

Di Sumatra, titik kemacetan akan terjadi di exit tol yang terkoneksi dengan jalan lintas Sumatra, seperti di Lampung dan Sumatra Selatan, mengingat jalan di lintas Sumatra sempit dan tidak terlalu mantap. Oleh karena itu perlu ada rekayasa lalu lintas agar tidak menimbulkan persoalan baru. Kemacetan juga akan terjadi pada ruas yang menghubungkan antara Tapanuli Utara dengan Tapanuli Selatan. Jalan lintas tengah Sumatra yang menghubungkan Tarutung-Sipirok misalnya, merupakan jalur padat, tapi kondisi jalannya sempit dan amat buruk, serta kanan kirinya jurang, padahal jalan tersebut merupakan jalur utama yang dilalui oleh bus-bus dari Medan ke Jawa atau sebaliknya.

Yang tidak boleh diabaikan adalah kemacetan di tingkat lokal, terutama yang sering dilalui oleh para pemudik, sepertinya misalnya jalur Secang-Magelang. Jarak Secang ke Magelang hanya sembilan kilometer, tapi selama tiga kali musim mudik Lebaran sebelumnya, jarak tersebut memerlukan waktu tempuh sampai tiga jam. Ini jelas masalah besar. Dan, kasus-kasus seperti itu banyak terjadi di sejumlah wilayah, seperti misalnya jalur Kota Yogyakarta-Wonosari (Gunungkidul). Diperlukan kesigapan daerah untuk melakukan rekayasa lalu lintas agar kemacetan di tingkat lokal tidak menimbulkan frustrasi bagi para pemudik.


(mmu/detik.com)

Bangga Indonesia
Bangnes Updated at:

Ini Cara Relawan di Banyuwangi Menangkan Paslon Gus Ipul-Puti


BANGNES - Kemenangan cagub cagwagub Jatim nomor urut 2 ini tak hanya dilakukan pasangan calon (Paslon) semata. Namun di belakangnya, ada relawan yang berjibaku mengenalkan dan memenangkan paslon di wilayah/daerah tertentu.

Salah satunya adalah Konco 17 Agustus (Kontag) 45 Banyuwangi. Relawan terdiri dari dosen, karyawan, mahasiswa, guru, dan alumni dari lembaga pendidikan di bawah naungan Perkumpulan Gema Pendidikan Nasional (Perpenas) Banyuwangi ini, berusaha keras memenangkan pasangan cagub-cawagub Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno.

"Berbagai pertimbangan dan evaluasi atas kinerja atau prestasi pasangan kandidat, kita memutuskan Gus Ipul dan Mbak Puti adalah pasangan yang paling tepat. Keduanya kita pilih dan yakini dapat melakukan perubahan berkelanjutan demi semakin berkembangnya Jawa Timur," ujar Mahfud, Ketua Kontag 1945 Banyuwangi, kepada detikcom, Jumat (25/5/2018).

Berbagai upaya dilakukan untuk melakukan sosialisasi dan pemenangan. Antara lain, turun langsung ke masyarakat, menyentuh langsung seni budaya dan adat, serta komunitas pertanian.

"Kita terjun langsung di desa-desa. Di Kemiren kita gelar gesah budaya Using bersama komunitas pelaku Kesenian Barong "Sapu Jagad". Selanjutnya kita juga terjun langsung di Desa Balak, Kecamatan Songgon bertemu dengan musisi 'Balak Ethnic Percussion'," ujar Lucky Martini, salah satu relawan Kontag 45.

Dalam sosialisasi tersebut, para komunitas yang berjuang untuk seni dan budaya lokal ini sangat mendukung program paslon. Mereka mengharapkan program 1.000 desa wisata (Seribu Dewi) diwujudkan saat keduanya terpilih menjadi gubernur dan wagub Jatim.

"Program ini sangat mengena untuk desa di Banyuwangi yang menggalakkan pariwisata. Kami ingin desa seperti Kemiren ini menjadi jujugan wisata. Kami akan bisa hidup dengan tradisi kami yakni Barong," ujar Sucipto, Ketua Kesenian Barong Sapu Jagad di Kemiren.

Tak hanya seni budaya, Kontag 45 juga menyasar para petani buah naga di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon. Berbagai program pro petani juga dibeberkan seperti pemerataan ekonomi masyarakat yang jauh dari kota dengan membangun agropolitan, memberdayakan kearifan lokal, petani jadi mandiri.

"Kita harapkan janji Gus Ipul dan Mbak Puti tidak meleset. Kami yang ada pelosok berharap pembangunan untuk masyarakat petani diprioritaskan," ujar Samsul, salah satu petani buah naga di Songgon. (fat/fat)


Artikel dan Foto: detik.com
Ardian Fanani - detikNews

Bangga Indonesia
Bangnes Updated at:

Bika Ambon Makanan Khas Medan - Sumatera Utara


Bika Ambon merupakan salah satu makanan khas Kota Medan, Sumatera Utara.

Seperti apakah Bika Ambon ini? Dan apa saja yang menarik dari kue manis dan kenyal satu ini?

Bika Ambon adalah salah satu makanan khas jenis kue basah yang berasal dari Kota Medan, Sumatera Utara. Kue satu ini memiliki ciri khas dengan warnanya yang kuning dan memiliki rongga-rongga di bagian dalamnya. Selain itu kue Bika Ambon juga memiliki citarasa dan aroma yang khas sehingga membuat kita ketagihan untuk menyantapnya. Di Kota Medan sendiri, kue Bika Ambon ini sudah sangat terkenal dan menjadi salah satu icon kuliner kebanggaan masyarakat di sana. Sehingga selalu menjadi buruan para pecinta kuliner maupun para wisatawan saat berkunjung ke sana.

Asal Usul Bika Ambon
Saat pertama kali mendengar nama kue Bika Ambon ini, tentu kita akan mengira bahwa kue satu ini berasal dari daerah Maluku di Indonesia timur. Namun pada kenyataannya kue Bika Ambon ini memang sangat populer di Kota Medan, Sumatera Utara.

Dari beberapa sumber yang kami temukan, ada beberapa versi cerita yang menjelaskan tentang asal usul nama Bika Ambon ini. Salah satunya dari penjelasan M. Muhar Omtatok, salah seorang budayawan dan sejarawan yang menjelaskan bahwa kue Bika Ambon ini awalnya terilhami dari kue khas bangsa Melayu yaitu bika atau yang disebut juga dengan bingka. Kue tersebut kemudian dimodifikasi dengan menambahkan bahan pengembang berupa Nira atau Tuak Enau. Sehingga bagian dalamnya menjadi berongga dan memiliki rasa yang berbeda dengan kue bika khas Melayu tersebut.
Kemudian, kue ini mulai disebut dengan kue Bika Ambon karena pertama kali dijual di daerah simpang Jl. Ambon - Sei Kera, Medan. Karena banyaknya peminat, kue ini kemudian mulai populer dan sering disebut dengan kue Bika Ambon, sesuai dengan nama jalan tersebut. Asal usul dan nama dari Bika Ambon ini hingga kini masih menjadi kontroversi. Namun walaupun begitu, kue Bika Ambon tetap menjadi salah satu hidangan istimewa dari masyarakat Medan.

Pembuatan Bika Ambon

Bahan yang digunakan untuk membuat Bika Ambon ini diantaranya adalah tepung, telur, nira, gula, dan santan. Sedangkan untuk bahan penyedap bisa menggunakan daun pandan, daun jeruk, atau vanilli. Dalam proses pembuatannya, pertama, rebus santan bersama dengan daun jeruk dan daun pandan. Setelah santan tersebut didinginkan, kemudian masukan satu per satu bahan seperti telur, tepung, gula, dan nira. Bahan tersebut diaduk hingga merata, kemudian didiamkan selama beberapa jam sampai mengendap. Setelah itu kemudian adonan tersebut dimasukan ke dalam oven dengan api sedang, dan tunggu hingga kue tersebut matang. Cita Rasa Bika Ambon Bika Ambon ini memiliki cita rasa yang sangat khas. Rasanya yang legit berpadu dengan teksturnya yang kenyal tentu menimbulkan sensasi tersendiri saat kita menyantapnya. Selain itu aromanya yang kuat juga sangat menggugah selera. Tempat Kuliner Bika Ambon Kue Bika Ambon merupakan makanan khas yang sangat terkenal di Kota Medan, Sumatera Utara. Selain untuk dikonsumsi sendiri, makanan satu ini juga banyak diperjual-belikan, bahkan menjadi salah satu makanan oleh-oleh khas Kota Medan. Salah satu kawasan yang banyak terdapat penjual Bika Ambon ini adalah di kawasan Jalan Majapahit. Menurut beberapa sumber yang kami dapatkan, disana banyak terdapat toko-toko yang menjual makanan khas satu ini. Rasa yang ditawarkan pun juga bervariasi, mulai dari rasa pandan, coklat, keju, dan lain-lain. Walaupun tanpa menggunakan bahan pengawet, kue Bika Ambon ini juga mampu bertahan sampai 3-4 hari. Sehingga sangat cocok juga untuk dijadikan oleh-oleh saat kita berkunjung ke sana. Nah, sekian penjelasan tentang “Bika Ambon Makanan Khas Medan, Sumatera Utara“. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang makanan tradisional di Indonesia. Negeriku Indonesia Sumber gambar : resepdanmakanan.com

Bangga Indonesia
Bangnes Updated at:

Menteri Perhubungan Laksanakan Arahan Presiden Jokowi di Kepulauan Nias

 Firman Jaya Daeli Memberi Kata Sambutan Bersama Dengan Rombongan Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi, Dirjen Perhubungan Udara, dan Dirjen Perhubungan Laut di Kepulauan Nias, Minggu, (07/08/2016). 


BANGNES - Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi saat melakukan kunjungan kerja di Kepulauan Nias (Kepni), berkomitmen untuk mempercepat dan meningkatkan pembangunan Kepni. Pembangunan berintikan pada kualitas infrastruktur perhubungan, dalam hal ini perhubungan udara yang berkaitan dengan prasarana, sarana, dan fasilitas bandara. Demikian Menhub juga yang ditemani rombongan yaitu Firman Jaya Daeli, Dirjen Perhubungan Udara, dan Dirjen Perhubungan Laut, Minggu, (07/08/2016).

Menurutnya, selain peningkatan kualitas bandara Binaka, pembangunan juga diagendakan untuk perpanjangan dan perluasan bandara Binaka. pemerintah kabupaten/kota Se-Kepni terutama pemerintah setempat kota Gunungsitoli juga berinisatif dan terlibat aktif untuk berperan maksimal di lapangan dalam rangka percepatan perluasan dan perpanjangan bandara. Sejauh ini juga sahabat saya, Firman Jaya Daeli sudah lama kenal baik dengan Presiden Jokowi,

“Kemenhub juga berpendapat dengan mengutip kebijakan dan arahan Presiden Jokowi bahwa harus ada dan pentingnya konektivitas infranstruktur perhubungan dengan pertumbuhan dan pergerakan perekonomian,” ujar Menhub RI juga menyampaikan bahwa Firman Jaya Daeli adalah sahabat lamanya, yang memahami serta dapat menyampaikan aspirasi daerah dan warga masyarakat Kepulauan Nias Kepada Presiden RI.

Dalam sambutannya Firman Jaya Daeli bahwa melanjutkan dan memperkuat apa yang menjadi aspirasi para kepala daerah dan warga masyarakat Kepni terutama pembangunan perhubungan secara umum dan bandara di Kepni secara khusus.

“Perlu diingatkan kembali apa yang disampaikan Menhub RI mengenai pentingnya konektivitas antara keberadaan dan kesiapan memadai bandara dan sejumlah infranstruktur perhubungan lainnya dengan pelayanan publik, pertumbuhan dan pergerakan ekonomi rakyat & kawasan, kemajuan daerah dan peningkatan kesejahteraan rakyat Kepulauan Nias,’ ujar Firman J Daeli. (LB) 

Bangga Indonesia
Bangnes Updated at:

Perintah Kemendikbud: Pemda Jangan Tahan Uang Sertifikasi Guru!

sumarna surapranata
Dirjen guru dan tenaga kependidikan Kemendikbud Sumarna Surapranata

BANGNES, Pendidikan - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyambut baik penyaluran uang tunjangan profesi guru (TPG) triwulan pertama 2016. Mereka berharap uang yang sudah masuk di kas pemerintah daerah (pemda) itu segera disalurkan ke rekening guru.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Sumarna Surapranata mengatakan, masalah klasik tersendatnya pencairan TPG jangan sampai terulang kembali. “Tersendatnya pencairan itu banyak sekali faktornya,” katanya di Jakarta kemarin (10/4).

Pranata menuturkan tersendatnya pencairan TPG karena sengaja ditahan oleh pemda, tidak bisa ditoleransi. Pejabat yang gemar kuliner Sunda itu mengatakan, pernah ada laporan TPG ditunda pencairannya karena menunggu 100 persen guru sasaran mendapatkan surat keputusan tunjangan profesi (SKTP).

Dia mencontohkan di daerah tertentu guru sasaran pencairan TPG ada 100 orang. Tetapi ketika uang TPG cair dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu), baru 80 orang guru yang sudah mengantongi SKTP. Sisanya ada 20 orang yang belum mendapatkan SKTP dari Kemendikbud.

“Sebaiknya TPG untuk 80 orang guru yang sudah mengantongi SKTP itu dicairkan dulu,” ujarnya. Tanpa perlu menunggu penerbitan SKTP untuk guru lainnya. Pranata mengatakan setiap individu guru, pasti menunggu pencairan TPG dengan kebutuhan masing-masing.

Data dari Kemenkeu jumlah anggaran TPG triwulan pertama tahun anggaran 2016 yang sudah ditransfer ke daerah mencapai Rp.20,2 triliun. Kabupaten Bandung dan Kota Bandung menjadi daerah dengan anggaran TPG terbesar dengan nominal masing-masing Rp.217 miliar dan Rp.188 miliar.

Pemerintah daerah dengan anggaran TPG terbesar berikutnya adalah Kabupaten Garut dengan anggaran Rp170 miliar, Kabupaten Bogor dengan jumlah Rp151 miliar, dan Kabupaten Jember, Jawa Timur, senilai Rp143 miliar.

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan penundaan pencairan TPG itu memang jamah terjadi. “Diantara sebabnya adalah, mencegah kesenjangan di antara guru,’’ tuturnya. Untuk itu dia berharap Kemendikbud mengawal pencairan TPG itu.

Dia mengatakan Kemendikbud tidak boleh hanya sebatas menerbitkan SKTP dan mengawal pencairan guru-guru non PNS saja. Lebih dari itu Kemendikbud juga dituntut untuk memantau langsung pencairan TPG bagi guru-guru PNS daerah. Dimana jumlahnya orang maupun anggarannya jauh lebih banyak.

Sebelumnya, Kepala Bagian Perencanaan dan Penganggaran Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Tagor Alamsyah Harahap mengatakan anggaran TPG triwulan pertama ini untuk membayar tunjangan periode bulan Januari sampai Maret. “Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pembayaran dirapel tiga bulanan,” kata Tagor, Jumat lalu (8/4).

Tunjangan yang mulai dicairkan itu merupakan bagian dari alokasi TPG selama 2016 sekitar Rp80 triliun. Tagor menuturkan Kemendikbud berharap pemda segera merealisasikan pencairan TPG triwulan pertama itu. Sebab dananya sudah ditransfer ke rekening masing-masing pemda. (rdrc)

Bangga Indonesia
Bangnes Updated at:

 
back to top