BANGNES - Seni dan budaya diperkenalkan oleh warga Banjar Cica kepada wisatawan dari Australia yang dipimpin oleh Ps. Phil dan Tim FFC.

Perjumpaan ini terjadi karena juga peran atau mediator seorang rohaniawan setempat yakni Pdt. Izac Rio Hernemus Bainuan, S.Si, Theol., beserta umatnya yang juga bertepatan berada di lingkungan Banjar Cica. Minggu, (2/10/2022)

Kerjasama telah terjalin ketika Pdt. Rio dan tim membagi kebutuhan sehari-hari berupa sembako ketika masa Covid-19 sedang parah-parahnya melanda negeri ini. Adapun sembako tersebut berasal dari Ps. Phil dan tim yang selanjutnya dikelola atau diteruskan oleh Pdt. Rio dan tim kepada warga Banjar Cica, selanjutnya kepala lingkungan Gusti Ngurah Mastra membagikan kepada warga banjar Cica yang memerlukan.

Acara ini juga dihadiri oleh Kelian Adat Banjar Cica Ketut Rai Gustiana.

Kerinduan Ps. Phil mengunjungi Bali, khususnya wilayah Badung yang mengambil lokasi di Banjar Cica, juga sangat beralasan, karena di daerah tersebut juga terdapat Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Widhya Asih, atau yang lebih familiar Panti Asuhan; di LKSA tersebut ditampung anak-anak yang kurang mampu dari sisi ekonomi.

Kebersamaan dan keceriaan warga Banjar Cica nampak ketika mereka datang satu persatu ke balai banjar. Adapaun yang datang adalah dari unsur pengurus PKK, warga Lansia (Tresna Asih), STT (Sekeha Teruna-Teruni Dwi Dharma Santhi). Saat kedatangan rombongan, Ps.Phil dan tim disambut dengan tabuh dan tarian Bali.

Rombongan Ps. Phil dan tim nampak antusias dan tertegun menyaksikan tarian, yang antara lain dibina oleh I Nyoman Murdita, S.S.T serta diajarkan oleh beliau dengan gratis sebagai bentuk membagi keterampilan khususnya dibidang seni tari.

Pada kesempatan tersebut rombongan juga menyerahkan dana dukungan (punia) yang diharapkan bisa untuk menunjang program yang ada di Banjar Cica.

Dari kegiatan ini kita dapat memetik hikmah dan pelajaran, bahwa perbedaan ras, suku dan warna kulit yang ada di dunia ini, tidak menjadi penghalang untuk melakukan gerakan sosial kemanusiaan, bersama-sama menebar rasa welas asih, agar seluruh umat manusia menikmati perdamaian dan rasa persaudaraan.

Dengan demikian aktivitas ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan usaha pemerintah memulihkan ekonomi kreatif dibidang pariwisata bisa terwujud, jika semua komponen masyarakat mampu menciptakan perdamaian, kerukunan dari bawah sampai atas, maka hal ini bisa menciptakan modal budaya (capital culture) dalam membangun negeri ini ke arah menjadi bangsa yang kuat dan tangguh.

(Efran)

Baca Juga :